Pesan Kearifan Lokal dalam Arsitektur Modern Masjid Ngabar

Masjid Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar Ponorogo

Tahun 2016 merupakan salah satu tahun bersejarah Masjid Pondok Ngabar karena di tahun tersebut masjid mengalami renovasi dari seluruh aspeknya. Selain kapasitasnya yang dinaikkan menjadi dua lantai, desain masjid juga mengalami perubahan dari sebelumnya yang bernuansa klasik, menuju nuansa modern.

Berdasarkan riwayat, masjid yang berdiri di atas tanah seluas 17,5 m x 44 m ini pernah mengalami 3 kali relokasi. Pertama, Dahulu pada masa penjajahan belanda, sudah berdiri sebuah masjid kecil yang sangat sederhana terletak kurang lebih 50 mater dari masjid yang sekarang, atau tepatnya di timur makam yang saat ini menjadi Gedung Harapan. Di masjid tersebut terdapat beberapa santri yang dipimpin oleh Kiai Abdul latif yang rumah beliau terletak di barat makam. Kedua, masjid kecil tersebut dipindahkan ke barat makam atau tepatnya lokasi gedung Al-Azhar saat ini dan berdekatan dengan rumah Kiai. Ketiga, pasca kemerdekaan Indonesia, masjid kecil tersebut direlokasi ke lokasi masjid pondok saat ini.

Pasca relokasi ketiga yang berakhir di atas tanah saat ini, masjid telah mengalami 3 kali renovasi. Pertama, sekitar tahun 1972 mengalami renovasi total, yaitu masjid Pondok yang lama diwakafkan ke dusun Genengan yang sampai saat ini masjidnya masih makmur, dan pondok membangun kembali masjid yang baru di tanah yang sama. Kedua, sekitar tahun 1984, karena kuantitas santri semakin meningkat dan masjid tidak cukup, maka dilakukan perluasan masjid ke arah barat hingga mihrab yang saat ini. Ketiga, tahun 1991 diadakan perluasan lagi ke arah timur karena jumlah santri semakin meningkat. Hasil renovasi tahun 1991 ini bertahan hingga saat ini (2016).

Secara singkat, masjid baru Pondok Ngabar mengangkat konsep perpaduan desain modern dan timur tengah, namun tidak meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal. Sehingga, nilai-nilai filosofis masjid tidak hilang begitu saja di tengah arus modernitas.

Dari segi fungsi, masjid baru dibangun dua lantai dengan luas area sholat 1.015 m2 dan dapat menampung 1.400 jamaah. Selain itu masjid juga dilengkapi dengan ruangan Studio Ngabar FM sebagai radio dakwah, tempat wudlu, dan mini hall di lantai dua. Dengan demikian, fungsi masjid sebagai titik sentral pesantren semakin kuat dan mampu menopang berbagai kegiatan.

Adapun konsep masjid terbuka tanpa pintu, berfungsi sebagai sirkulasi udara dan pencahayaan. Dari segi filosofis, masjid baru memiliki Sembilan pilar di bagian depan mencerminkan jumlah Wali Songo yang berdakwah di Nusantara. Sedangkan pada bagian mihrab, dibuat replika ka’bah yang merupakan kiblat peribadatan seluruh umat Muslim seluruh dunia, dan merupakan visualisasi komitmen Pondok dalam membina santri yang salimun fi al-‘aqidah.

Selain itu, desain masjid terbuka tanpa pintu pada sisi timur, selatan dan utara, menandakan bahwa dakwah Islamiyyah dapat ditempuh dengan berbagai cara dan media, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para Wali Songo. Diantaranya Sunan Kalijaga yang berdakwah dengan gamelan dan syair, Sunan Giri dengan wayangnya, yang kesemuanya itu telah dimasukkan nilai-nilai keislaman. Sehingga masyarakat awam mampu dengan mudah menerima syiar Islam yang berakhir pada pengakuan bahwa Allah merupakan satu-satunya Tuhan dan Islam sebagai agama yang paling benar disertai dengan pengamalan yang divisualisasikan dengan bersujud di depan ka’bah. (Amir)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *