Liburan Positif ala Santri Ngabar

“Tidak ada kenikmatan kecuali sesudah kepayahan dan kerja keras”. Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kenikmatan setelah bekerja keras dalam menghadapi rentetan ujian semester ganjil, hingga akhirnya tiba saat-saat yang dinantikan oleh para santri, yaitu liburan pertengahan tahun. Banyak kegiatan menarik yang dilakukan oleh para santri untuk menghabiskan masa liburannya, khususnya bagi yang memiliki kesempatan pulang ke rumah bertemu dengan sanak famili.

Berbeda cerita dengan para santri yang memilih untuk menghabiskan masa liburannya di pondok, mereka adalah mayoritas santri yang berasal dari konsulat luar jawa.

Meski tidak bertemu sanak family, para santri mukim ini tetap gembira dan mengisi liburan dengan berbagai hal bermanfaat, seperti rihlah tarbawiyah, turnamen olahraga, kerja bakti, dll.

Pandawa Water World Solo menjadi salah satu destinasi liburan santri putri yang bermukim di Pondok. Selain itu mereka juga berkunjung ke traditional market. Hal ini bertujuan mengajarkan santri bagaimana bersosialisai dengan para pedagang, berbelanja dengan baik, mengenal pasar tradisional, dan menanamkan jiwa cinta produk lokal. Pada hari terakhir liburan, santri putri juga berkunjung ke salah satu perbukitan yang berada di desa Balong Ponorogo, yang biasa dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Bukit Beruk. Perjalanan dilaksanakan pada pagi hari setelah sholat shubuh. Pemandangan yang sangat menyejukkan serta rumah-rumah pohon yang berada di area perbukitan menambah lengkap suasana liburan di pagi itu.

Berbeda dengan santri putri, santri putra yang bermukim di pesantren memilih Yogyakarta sebagai destinasi liburan mereka dengan beberapa tujuan, diantaranya, Studi wirausaha peternakan kambing Etawa di lereng Gunung Merapi; Out Bond; permainan Pin Ball yang mengajarkan tentang perjuangan dalam peperangan; rafting di sungai Elo Progo; festival lampion; malioboro; dan silaturahim dengan alumni Pondok Ngabar distrik Yogyakarta.

Menurut Pondok Ngabar, berlibur bukan sekedar untuk bersenang-senang. Namun ia adalah pergantian dari satu kegiatan menuju kegiatan lain. Sehingga, liburan harus tetap bermanfaat dan memiliki makna lebih.

Bagi santri yang pulang ke rumah, liburan menjadi ajang untuk menguji kemampuan diri berkiprah di masyarakat dengan ilmu yang diperoleh selama ini. Karena tujuan belajar adalah untuk memberikan kemanfaatan seluas-luasnya. Sedangkan bagi yang bermukim di pesantren adalah pembelajaran bagaimana menciptakan kegiatan yang bermanfaat dalam suasana liburan. (Tyas Ayu Arini & Ulfi Ibnu Salim)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *