Ustadzah Sobirotin, Sosok Guru dengan Semangat Juang Tinggi

Ustadzah Sobirotin, begitulah kami memanggil. Beliau lahir pada tanggal 8 Juli 1959 M, anak ke-6 dari pasangan suami istri bapak Abdu Shomat dan Ibu khofiatun. Beliau adalah adik kandung dari ustadz KH. Zainuddin, Lc (Alm), Pimpinan Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar 2001-2006.

Beliau adalah sosok mujahidah ‘alimah yang dikenal memiliki semangat juang yang tinngi. Ibu bagi para santri, motivator bagi para ustadzah dan bahkan dikenal sebagai “kamus berjalan”, karena taraf keilmuannya yang tidak diragukan lagi, khususnya dalam rumpun pelajaran bahasa Arab. Semangat dalam belajar dan mengamalkan ilmunya sangat terasa dikalangan para santri dan ustadzah. Kehidupan sehari-harinya beliau habiskan untuk kepantingan umat.

Awal karir beliau di Pondok Pesantren Wali Songo adalah sebagai tenaga pengajar di Tarbiyatul Muallimat Al-Islamiyah yaitu pada tahun 1984, kemudian beliau menikah dan tinggal di desa Coper, Jetis, Ponorogo. Dalam proses mengajar di Ngabar, dengan ringan kaki beliau menempuh perjalanan Coper-Ngabar menggunakan sepeda onthel tua. Tentu sangat melelahkan. Namun, bagi sosok ustadzah Shobirotin hal tersebut tidak pernah menjadi masalah.

Di samping mengampu mata pelajaran Shorof, Nahwu, Balaghoh, Qowaidul Imla’ dan Tarikh Islam, beliau juga dipercaya sebagai majelis tashih soal-soal ujian sebelum diujikan kepada para santri.

Kiprahnya tidak berhenti pada pembelajaran formal, beliau juga termasuk aktivis Pramuka, yang senantiasa mendampingi para santri dalam kegiatan Pramuka di Pondok. Di awal berdirinya Pondok Pesantren Al-Mawaddah Coper, beliau mendapat amanah langsung dari ustadz. KH. Ibrahim Thoyyib, Pendiri Pondok Pesantren Wali Songo untuk ikut serta mengamalkan ilmu di Pondok Pesantren Al-Mawaddah, dari awal berdiri hingga tahun 2015 M.

Seiring berjalannya waktu, Pada awal tahun 2016 beliau mendapat amanah dari Pimpinan Pondk Pesantren Wali Songo untuk menjadi wakil direktur Tarbiyatul Muallimat Al-Islamiyah, berdampingan dengan Ustadz. Hadi Wiyono, M.HI dan Ustadzah Endang Sriyani, S.HI. Amanah yang berlangsung dari awal tahun 2016 ini beliau jalankan dengan sebaik-baiknya. Bermodal semangat muda, walau usia beliau sudah menjelang senja.

Selain masuk dalam jajaran direktur, beliau juga mendapat amanah untuk menjadi ketua tim bahasa di kampus putri, yang dikenal dengan istilah LAC (Language Advisory Council), beliau termasuk salah satu penggagas terbentuknya tim tersebut.

“Saya ingin menjadi pohon yang berbuah, sehingga buahnya dapat dinikmati oleh siapapun yang berada di dekat saya”, itulah motto hidupnya. Khazanah keilmuan yang tinggi dan semangat belajar mengajar yang selalu berkobar, sudah seharusnya menjadi panutan bagi kita semua, generasi penerus.

Beliau meninggal pada hari Rabu, 21 desember 2016. Wallahu a’lam bish-showab. [Zulfa Amalia & Tyas Ayu Arini]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *