(Bukan) Lilin Khalifah

 2017-10-29 14:36


Pondok Ngabar- Suatu ketika datang delegasi daerah yang sangat jauh ke rumah khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia datang saat hari menjelang petang, sehingga untuk menerimanya, khalifah harus menyalakan lilin besar.

Dalam pertemuannya dengan khalifah terjadi perbincangan dan diskusi mengenai kondisi negara dan rakyat yang dipimpinnya. Khalifah menyakan berbagai hal, mulai dari harga pangan, kondisi kaum Muhajirin dan Anshar, keadilan pemimpin daerah, nasib faqir miskin, hingga kondisi para pegawai pemerintahan.

Setelah lama berdiskusi persoalan negara, tiba-tiba delegasi tersebut bertanya tentang kesehatan dan kondisi keluarga khalifah, “Wahai Amirul Mukminin, bagaimana kondisi kesehatan Anda? Bagaimana juga kabar keluarga dan kerabat Anda? Adakah yang bisa saya bantu?”. Mendengar pertanyaan tersebut, khalifah Umar bin Abdul Aziz serta merta meniup lilin besar tadi hingga padam, dan menyalakan lilin kecil lainnya, dan kemudian menjawab pertanyaan tentang dirinya dan keluarganya.

Setelah mendapat jawaban yang baik, akhirnya delegasi itu pamit pulang ke daerahnya. Namun, ada yang mengganjal di hatinya, yaitu mengapa tadi khalifah mengganti lilin besar dengan lilin kecil saat topik diskusi berubah ke arah pembahasan keluarga khalifah?

“Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau memadamkan lilin ketika saya menanyakan kabar Anda dan keluarga Anda?”, tanya delegasi itu. “Wahai Saudaraku, sesungguhnya lilin yang aku padamkan tadi adalah lilin negara. Lilin itu hanya bisa aku gunakan untuk membahas perkara-perkara yang berkaitan dengan negara dan kemashlahatan umat. Kemudian, ketika Engkau bertanya kepadaku tentang kehidupan pribadi dan keluargaku, maka sudah sepantasnya Aku memadamkan lilin milik rakyat yang bukan hakku”, jawab Khalifah Umar.

Sejenak mari kita renungkan betapa Khalifah Umar bin Abdul Aziz sangat berhati-hati menjaga amanah yang diberikan kepadanya. Pemimpin seperti Beliau rasanya sulit kita temukan pada era saat ini. Di mana korupsi menjadi budaya, tak korupsi dianggap aneh dan gila.

Mungkin secara tidak sadar kita pun pernah atau bahkan sering melakukan korupsi. Mungkin tidak korupsi uang, namun korupsi waktu. Datang kerja terlambat atau pulang kerja lebih dahulu dari jam yang ditentukan. Bukankan lima menit keterlambatan kita itu berarti kita telah memakan lima menit waktu rakyat yang akan di pertanggungjawabkan kelak? Tentu. Jangankan lima menit yang bisa saja membuat kita bosan menunggu, bahkan keburukan sekecil biji dzarrah sekalipun tak akan luput dari pertanggungjawaban kelak di akhirat. ( Muhammad Amiruddin Dardiri )