Didik Generasi Milenial Dengan Metode Coaching

 2019-02-03 22:39


Didik Generasi Milenial Dengan Metode Coaching

Pondok Ngabar –Guru sebagai pendidik sekaligus pengasuh pengganti orang tua yang ada dirumah memiliki peran penting dalam membina santri. Sudah menjadi kewajiban untuk memberikan perhatian khusus kepada masing-masing santrinya. Namun kenyataannya, fenomena generasi sekarang atau dikenal dengan milenial era industry 4.0 memiliki perbedaan dalam cara mengasuh dan pola pembinaanya. Dengan itu, Tarbiyatul Mu’allimin al Islamiyah (TMI) menggelar Workshop Parenting Wali Kelas  pada (25/1) dengan tema “Coaching Skill For Excellence” dengan menghadirkan coach Agus Nahrowi dari Bekasi.

Menurut Agus Nahrowi atau biasa disapa Gusrowi metode coaching saat ini menjadi trend tersendiri. Coaching juga menjadi salah satu metode pengembangan individu menjadi alternative efektif pola asuh yang humanis yang saat ini bisa diterapkan didunia pendidikan.

“Di pondok pesantren, guru selalu memberikan perhatian penuh terhadap perkembangan santri. Guru sebagai coach memungkinkan santri mendapatkan kesadaran dan mengindentifikasi mereka ingin menjadi seperti apa, di mana mereka sekarang, apa pilihan mereka yang miliki untuk membuat mereka bergerak maju dan apa tindakan yang benar-benar akan dilakukan untuk bergerak maju.” Jelas Gusrowi

Coaching berbeda dengan mentoring, consultating, training. Teknik coaching ini bisa menguraikan masalah dan digali bagaimana mencari solusinya dan itu semua didapat dari diri santri sendiri.

“Guru yang memiliki skill coaching ketika dimintai saran, dia mengembalikan dengan pertanyaan-pertanyaan. Membantu menguraikan masalah santri dengan membuatnya mikir dengan pertanyaan (asking powerfull question).” Jelas Gusrowi

Ada empat kompetensi yang harus dimiliki seorang coach : (1) Membangun etika dan kesepakatan yakni membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia seperti prinsip-prinsip moral dan pedoman perilaku (2) meningkatkan hubungan dan kepercayaan yakni membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia seperti prinsip-prinsip moral dan pedoman perilaku. (3) Komunikasi efektif meliputi pengetahuan mendengar aktif, komunikasi secara Verbal dan Non Verbal, mendengarkan emosi dan perasaan, tidak menghakimi, pertanyaan yang memberdayakan dan melakukan komunikasi langsung dan (4) memfasilitasi proses belajar dan hasil yakni dengan membangun kesadaran santri, mendukung santri dalam membuat rencana aksinya, membantu santri dalam membuat perencanaannya dalam mencapai tujuannya dan memantau kemajuan dan menjaga akuntabilitas dan komitmen santri.

Metode coaching menjadi alternatif pendekatan dalam pengasuhan santri. Setelah mengikuti workshop ini, guru sebagai pengasuh santri di pondok harus memiliki empat kompetensi sebagai coach yang diharapkan dapat memunculkan karakter santri yang kuat, berakhlak mulia dan menjadi generasi terbaik bangsa Indonesia. (Sazali)