Sistem Dua Rapor Mulai Diterapkan di Pondok Ngabar

 2018-12-18 00:21


Sistem Dua Rapor Mulai Diterapkan di Pondok Ngabar

Pondok Ngabar – Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar mulai menerapkan sistem dua rapor santri pada pertengahan tahun ini. Dua rapor itu adalah rapor akademik dan rapor penunjang akademik. Dua rapor tersebut sangat diperlukan. Selama ini rapor yang dimiliki para santri hanya mencatumkan nilai akademis. Sementara nilai untuk nonakademis, seperti bakat dan minat santri, tidak tercantum.

Maka daripada itu, Pondok Pesantren Wali Songo mengeluarkan Rapor Penunjang Akademik/Ekstrakurikuler dalam upaya memberikan perhatian khusus yang tidak hanya tertuju pada penilaian akademis melainkan juga penilaian non akademis. Rapor ini dikelola oleh bagian Pengasuhan Santri atau Majelis Pembimbing Santri yang dalam hal ini menjadi sebuah Lembaga yang mengurusi dan memantau lini kegiatan santri di luar jam sekolah.

Pada rapor ini, terdapat kategori penilaian seperti tahfidz wa ta’lim al Qur’an, olahraga dan seni, organisasi dan pengabdian masyarakat, bahasa Arab dan Inggris, dan catatan pelanggaran. Masing-masing kategori akan diberi poin sesuai keaktifan santri dan pemantauan bagian pengasuhan.

Dengan adanya rapor penunjang akademik ini, masing-masing santri, guru dan orang tua bisa mengevaluasi karakter serta minat setiap anak. Terlebih dua rapor ini di sajikan dalam aplikasi SIAP atau Sistem Informasi Administrasi Pondok Pesantren Wali Songo yang bisa diakses secara online di internet.

Sebuah aplikasi yang memungkinkan wali santri untuk mengetahui informasi terkini putra/ putrinya di Pondok Ngabar yang terdiri dari informasi aktivitas dan nilai sekolah, aktivitas dan nilai organisasi ekstrakurikuler, prestasi, perizinan, pelanggaran, dan jadwal pelajaran melalui portal santri yang telah disediakan. Selain itu, SIAP juga memungkinkan para guru untuk memantau kondisi dan prestasi tiap santri yang menjadi tanggungjawabnya di materi atau pelajaran yang telah ditetapkan.

Dua rapor ini menjadi langkah solutif jika ada santri yang memiliki hambatan. Itu karena guru bisa leluasa melihat kriteria dan memetakan hambatan. Dengan adanya dua rapor ini, parameter santri disebut pintar tidak bertumpu pada catatan akademis saja. Tapi, juga menilai santri secara nonakademik. Hal ini bisa jadi pertimbangan guru untuk menaikkan maupun mengarahkan santri di semester berikutnya. (Sazali)