NSS, Tontonan yang Sarat Pendidikan

 2018-08-05 11:44


NSS, Tontonan yang Sarat Pendidikan

Pondok Ngabar- Kamis, 2 Agustus 2018 M/ 20 Dzulqo’dah 1439 H, Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar (Pondok Ngabar) kembali membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya terletak dalam formalitas belajar mengajar di kelas saja. Melainkan juga melalui kegiatan non-formal, seperti pagelaran seni Ngabar Spectacular Show (NSS) yang dilaksanakan di lapangan Ngabar. Selain dihadiri oleh seluruh santri dan guru, wali santri, alumni, dan masyarakat umum juga menyaksikan kegiatan tahunan ini.

NSS merupakan salah satu wujud dari pendidikan santri yang didapatkan selain dari pendidikan formal di dalam kelas. Di wadah ini para santri belajar manajemen, event organizer, sikap totalitas dalam bekerja, tanggungjawab menjalankan tugas sesuai dengan bagiannya masing masing, serius dalam bermain, team work, saling menyempurnakan satu sama lain, dan kebersamaan.

Berulang kali pimpinan pondok menegaskan bahwa ini bukan sekedar tontonan, melainkan pendidikan. Sehingga, meskipun NSS ini berbentuk pentas seni, namun tujuan akhirnya adalah pendidikan sesuai dengan falsafah pondok, “apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, apa yang kamu rasakan adalah Pendidikan”.

Melalui NSS yang merupakan puncak dari Pekan Perkenalan Khutbatul Arsy ini, santri akhir Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah (TMI) calon alumni ke-53 selaku panitia berusaha menginternalisasikan nilai dan falsafah pondok dalam setiap penampilan. Kecuali itu, dalam berbagai penampilannya, terdapat unsur dakwah kepada masyarakat, sebagaimana yang dilakukan oleh para Wali Songo zaman dahulu yang berdakwah melalui wayang kulit, syair, musik, dan kearifan lokal lainnya.

NSS tahun ini mengusung tema “Palestina” yang menampilkan penampilan dengan membawa pesan Palestina dan Kemanusiaan. Drama Pedang Zulfikar, misalnya. Drama tersebut mengandung pesan bahwa setiap muslim adalah saudara.

Tujuan diangkatnya tema Palestina dalam NSS tahun ini adalah menunjukkan kepada santri dan masyarakat tentang kondisi saudara-saudara di Palestina sehingga tertanam sikap empati kepada mereka. Kecuali itu, hal pokok lain dari diangkatnya tema ini adalah agar umat Islam selalu menjaga persatuan dan tidak terpecah belah.

“Kita sebagai umat muslim tidak hanya diam melihat saudara-saudara kita di Palestina yang tertindas, kita harus bersatu. Negara-negara Islam harus bersatu untuk membela Palestina.” Ujar salah satu santri kelas VI.

Selain drama tentang Palestina, para santri juga menampilan penampilan tarian dari berbagai daerah di Indonesia. Uniknya, tarian-tarian itu tidak hanya ditampilkan oleh putra daerahnya. Misalnya, Tari sajojo dari Papua tidak hanya diperankan oleh santri dari Papua, namun dari berbagai daerah. Pun sama dengan tarian Betawi, Reog Ponorogo, dll. Hal itu mengajarkan kepada santri akan pentingnya merajut persatuan di tengan kebinnekaan Indonesia.

Untuk memacu penyelenggara NSS dalam menyuguhkan hiburan yang berkualitas, dibentuklah tim juri yang bertugas menilai hasil kerja keras anak kelas enam ini. Penilaian dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari dekorasi panggung, taman yang menghiasi bagian depan panggung, tata cahaya, tata suara, pelayanan dan penganan untuk tamu, penampilan MC, sampai ke detail setiap penampilan.

“Alhamdulillah, selamat dan sukses calon alumni ke-53. Acara pada malam ini benar-benar spectacular. Panggung luar biasa, nilainya 99. Penampilan-penampilan cukup baik. Manajemen artis, bagus. Kostum, bagus.”, ujar Kiai Ihsan disambut tepuk tangan para santri.

“Kita berharap anak-anak sekalian (NSS) ini dijadikan pelajaran penting bagi kalian. Ambil manfaatnya, ambil pelajarannya, dan jadikan dalam catatan hidup kalian”, lanjut beliau berpesan. (Sazali, Amir)