Milad ke-57, Ngabar Perkuat Sistem Perwakafan

 2018-04-29 09:58


Milad ke-57, Ngabar Perkuat Sistem Perwakafan

Pondok Ngabar- Bulan April selalu menjadi momentum berharga bagi Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar (Pondok Ngabar). Tepat pada tanggal 4 April 1961 silam, Pondok Ngabar resmi didirikan. Refleksi kesyukuranpun digelar pada tiap tanggal 3 April malam setelah sholat isya’ dengan mengadakan sujud syukur dan do’a bersama.

Milad ke-57 ini menjadi momentum Ngabar untuk menguatkan perwakafan Pondok yang telah diwakafkan pada 6 Juli 1980/ 22 Sya’ban 1400 kepada umat Islam. “Pada tahun 1980, (para pendiri) berpikir tentang kelangsungan Pondok Ngabar, ingin kelangsungan pondok ini (terjaga), maka beliau (para pendiri) mewakafkan Pondok Pesantren Wali Songo kepada umat Islam,” tegas Ustadz Heru dalam sambutannya. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa kondisi beberapa pesantren saat itu kelangsungannya tidak terjaga dengan baik, pondok ikut mati sepeninggal kiainya karena tidak ada kader yang meneruskan. Hal tersebut menjadi pemantik untuk diwakafkannya Pondok Ngabar agar tetap terjaga eksistensi dan nilai-nilainya.

Menginjak usia yang ke-57, Pondok Ngabar berusaha menguatkan perwakafan pesantren di berbagai bidang, mulai dari pertanahan, pembangunan fisik, perbaikan sarana dan pra sarana, perekonomian, hingga kaderisasi sebagaimana disampaikan pada sujud syukur, Selasa (3/4).

Penguatan sistem kaderisasi guru yang dimulai dengan adanya pengabdian wajib bagi lulusan tahun 2018 dan akan berlanjut di tahun-tahun mendatang. Proses pengabdian wajib ini, selain untuk menjaga keberlangsungan pondok, juga merupakan proses pendewasaan pada diri alumni dan wadah untuk mengamalkan ilmu. Sehingga kiprah awal pengabdian ini dapat menjadi modal untuk terjun di masyarakat kelak.

“Dalam rangka kaderisasi, inshaAllah pada tahun ini, 2018, kita akan menyekolahkan, mengkader beberapa anak-anakku nanti ke perguruan-perguruan tinggi di sekitar Ponorogo untuk jurusan bahasa Arab, bahasa Inggris, Matematika, dll.,” terang Ustadz Heru.

Ketua YPPW-PPWS, Ustadz Mohammad Zaki Su’aidi, Lc., M.PI menegaskan dalam sambutannya bahwa keberlangsungan pondok Ngabar sangat bergantung pada kader-kader yang dimiliki. “Nak, Pondok ini tidak akan lanjut jika tidak ada kader,” tegasnya.

Kecuali itu, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kab. Ponorogo menyerahkan lima sertifikat tanah Pondok kepada Pondok Ngabar yang diwakili oleh Pimpinan Pondok. Selanjutnya, akan ada 40 sertifikat tanah yang masih dalam proses kepengurusan dengan BPN.

Kelima sertifikat tanah tersebut merupakan hasil balik nama dari nama perorangan menjadi atas nama Pondok Ngabar. Hal ini merupakan upaya YPPW menjaga perwakafan tanah Pondok Ngabar, sehingga pemisahan antara hak pribadi dan hak umat menjadi lebih jelas, dan tidak menjadi masalah di masa mendatang.

Di sela-sela berbicara masa depan, pada momen ini juga dikenalkan kepada para santri salah satu tokoh masyarakat yang ikut berjuang membantu KH. Mohammad Thoyyib dalam mendirikan Pondok Ngabar, yaitu H. M. Jaiz yang telah berusia 96 tahun. Mbah Jaiz –begitu panggilan akrabnya, yang tinggal di selatan Pondok Ngabar, hingga kini masih aktif sholat berjama’ah di masjid pondok. Hal ini menjadi pelajaran hidup penting bagi para santri. (Amir)