OSWAS, Sebuah Ijtihad Kemandirian Organisasi

 2018-03-15 18:41


OSWAS, Sebuah Ijtihad Kemandirian Organisasi

Sebagai lembaga pendidikan pesantren, sudah selayaknya Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar tidak hanya fokus pada intelektual semata, namun juga pada spiritual, emosional, dan keterampilan hidup. Dengan demikian, pesantren betul-betul menjalankan fungsinya sebagai laboratorium kehidupan bagi para santri. Karena kelak mereka harus terjun di masyarakat sebagai problem solver. Sebuah keanehan jika seorang santri menjadi seperti ikan di daratan selepas dari pesantren.

Di antara upaya yang dilakukan pondok dalam mendidik santri adalah melalui wadah organisasi pelajar yang menuntut mereka untuk bersosialisasi dengan siapapun, baik kepada yang lebih senior, maupun dengan yang lebih junior. Hubungan sosial inilah yang kemudian menjadi modal dasar bagi para santri untuk terjun di masyarakat kelak. Di Pondok Ngabar, organisasi itu dikenal dengan nama Organisasi Santri Wali Songo (OSWAS) yang bertugas mengorganisir kegiatan santri selama 24 jam.

Dalam sejarahnya, Organisasi Pelajar di Pondok Ngabar telah mengalami tiga kali pergantian nama, yaitu bermula dari Pelajar Islam Indonesia (PII) yang bertahan hingga tahun 1987. Tepatnya pada 1 april 1987 M/ 1 sya’ban 1407 H, PII diubah menjadi Pelajar Islam Wali Songo (PIWS) dan bertahan kurang lebih selama 16 tahun. Selanjutnya, pada Kamis 13 maret 2003 M/ 14 muharram 1424 H diresmikan Organisasi Santri Wali Songo (OSWAS) sebagai ganti dari PIWS.

Pelajar Islam Indonesia (PII)

PII merupakan organisasi pelajar Islam yang yang bergerak pada bidang pendidikan dan pengkaderan untuk mewujudkan pendidikan yang ideal bagi segenap bangsa Indonesia dan Umat dengan berasaskan Islam. didirikan pada 1 Mei 1947 di Yogyakarta dengan tokoh pertama Yoesdi Ghazali.

Berdirinya PII dilatarbelakangi oleh dualisme pendidikan di Indonesia, yaitu pendidikan pesantren, dan pendidikan yang dihasilkan oleh Belanda dan Jepang. Kaum pesantren beranggapan bahwa pendidikan dengan corak belanda merupakan pendidikan yang dihasilkan oleh orang kafir karena bersistem dari belanda. Para pelajar sekolah umum merasa canggung untuk terjun langsung di masarakat muslim meskipun mereka beragama Islam. Banyak masyarakat yang tidak bersimpati kepada mereka karena dianggap sebagai antek-antek Belanda. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karna akan memicu perpecahan yang lebih besar, yaitu perpecahan bangsa dan umat Islam di masa mendatang.

Sebelumnya, telah ada organisasi Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) yang berkembang, namun kalangan pesantren kurang bisa menerima karena tidak ada unsur keislaman di dalamnya.

Berdasarkan kondisi di atas, Yoesdi Ghozali memiliki gagasan untuk menyatukan seluruh pelajar Islam, baik yang di dunia pesantren maupun di sekolah umum. Gagasan ini muncul setelah ia melakukan i’tikaf di Masjid Besar Kauman Yogyakarta pada 25 Februari 1947.

Gagasan tersebut disampaikan kepada Anton Timur Djaelani, Amin Syahri, Ibrahim Zarkasyi, dan Noersyaf saat pertemuan di Gedung SMP Negeri 2 Sekodiningratan, Yogyakarta. Dan semua yang hadir sepakat untuk mendirikan organsasi Pelajar Islam.

Selanjutnya, Yoesdi mengemukakan gagasannya dalam Kongres Gerakan Pemuda Islam (GPII) yang dilaksanakan pada 30 Maret - 1 April 1947 dan disetujui oleh peserta Kongres setelah melalui proses perbedaan pandangan. Peserta Kongres sepakat untuk melepas GPII sayap pelajar untuk bergabung dengan organisasi pelajar Islam.

Hasil kongres ini ditindaklanjuti dengan pertemuan di Kantor GPII, Jl. Margomulyo no.8 Yogyakarta pada Ahad, 4 Mei 1947 yang dihadiri oleh Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amin Syahri, Ibrahim Zarkasyi, dan wakil-wakil organisasi pelajar Islam lokal yang telah ada. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan berdirinya organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) tepat pada pukul 10.00 WIB.

Sebagai Lembaga Pendidikan Pesantren, Pondok Ngabar menetapkan PII sebagai organisasi pelajar pertamanya. Sehingga, selain mengadakan kegiatan di dalam pesantren, PII Pondok Ngabar juga aktif pada kegiatan PII di luar kampus, baik tingkat cabang maupun wilayah. Dan posisi Pondok  Ngabar adalah satu-satunya Cabang Istimewa PII. Diantara ketua Umumnya adalah Irwan Yani, dan Mahsun.

Pelajar Islam Wali Songo (PIWS)

Pada tahun 1985, Presiden Soeharto mengeluarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan yang menetapkan bahwa organisasi kemasyarakatan (ormas) harus menetapkan Pancasila sebagai asas tunggal. Hal ini tentu bertentangan dengan asas PII sebagai organisasi Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Hadith. Akibat penolakan ini, PII menjadi salah satu organisasi yang diincar oleh Orde Baru. Hal ini tentu berpengaruh pada PII daerah seperti PII Pondok Ngabar.

Untuk menyiasati hal tersebut, Pimpinan Pondok berijtihad untuk mengubah nama PII Ngabar menjadi Pelajar Islam Wali Songo (PIWS) tepatnya pada Tepatnya pada 1 april 1987 M/ 1 sya’ban 1407 H. Musyawarah Besar (Mubes) I PIWS dilaksanakan pada 5-9 Januari 1989 di bawah kepemimpinan Mahfudz Umar selaku ketua umum PIWS pertama dan dilanjutkan dengan laporan pertanggungjawaban kepengurusan periode I.

Pergantian nama ini adalah upaya penyamaran identitas PII Ngabar agar tidak terkena imbas dari kebijakan Orde Baru. Singkatnya, organisasi pelajar di Pondok Ngabar saat itu PII ‘berbaju’ PIWS yang terlihat sebagai organisasi pelajar independen. Hal ini berlangsung kurang lebih selama 16 tahun.

Pada masa PII dan PIWS, penetapan seorang pengurus bukan berdasarkan pada sistem kelas TMI/TMt-I, namun lebih kepada terpenuhinya training-training PII yang telah diikuti dan prestasi yang dicapai. Sehingga, meskipun masih duduk di kelas IV TMI/TMt-I, jika memiliki kecakapan lebih dalam berorganisasi, tidak menutup kemungkinan untuk menduduki jabatan strategis.

Maka, dapat dipastikan saat itu pengurus pelajar belum terpola per-kelas V TMI/TMt-I seperti saat ini dan dengan masa bakti yang berbeda-beda tiap individunya berdasarkan seberapa dini ia menjadi pengurus pelajar. Ada yang hanya satu tahun, dua tahun, bahkan tiga tahun menjabat.

Organisasi Santri Wali Songo (OSWAS)

Pada tahun 2003, Pimpinan Pondok Ngabar memutuskan untuk mengganti PIWS yang masih berafiliasi kepada PII dengan organisasi independen tanpa intervensi dari pihak luar kampus, karena dinilai sudah tidak relevan dengan kondisi Pondok Ngabar saat itu. Maka, ditetapkanlah Organisasi Santri Wali Songo (OSWAS) sebagai ganti PIWS pada Kamis 13 maret 2003 M/ 14 muharram 1424 H bertepatan dengan pergantian pengurus dari PIWS ke OSWAS dengan ketua umum Irzamuddin.

Pada masa ini, terjadi transisi besar dari pola PII menjadi pola OSWAS. Sehingga, tak heran jika periode-periode awal OSWAS masih terlihat nuansa PII di OSWAS, karena masih proses mencari pola baru. Bahkan, hingga tahun 2004, Nama PII Pondok Ngabar masih tercantum di PII wilayah Jawa Timur, karena masih ada kader-kader PIWS yang aktif di kegiatan ekternal PII saat itu.

Seiring berjalannya waktu, independensi OSWAS sebagai organisasi pelajar tunggal di Pondok Ngabar makin terasa. Sehingga intervensi dari pihak luar sudah tidak dirasakan. Kepengurusan OSWAS pun sudah terpola per-angkatan, yaitu dijalankan oleh santri yang telah duduk di kelas V TMI/TMt-I dengan kualifikasi minimum yang ditetapkan Majlis Pembimbing Santri, dan dipimpin oleh seorang ketua.

Saat ini, 13 Maret 2018, OSWAS menginjak usia 15 tahun. Usia yang cukup matang bagi sebuah organisasi. Semoga OSWAS semakin berkembang dan berkhidmat lebih baik kepada pondok dalam rangka menyiapkan pemimpin masa depan. Amin. (Amir Dardiri)