Jangan Hanya Jadi Generasi yang “Ala Kadarnya”

 2017-10-12 00:23


Jangan Hanya Jadi Generasi yang “Ala Kadarnya”

Siapa yang tak mengenal nama Sultan Muhammad al Fatih? Kisahnya tersohor di seantero jagad raya. Sang tokoh yang pertama kali hadir di dunia pada 30 Maret 1432 Silam dan diangkat menjadi Sultan di usia 19 tahun. Sayangnya, Sultan Turki Ustmani ini tidak memiliki usia yang panjang, di usia 49 tahun ia wafat. Keperkasaan Sultan Muhammad Al-Fatih dikenal melalui keberhasilannya dalam memimpin pasukan Islam untuk menaklukkan Konstantinopel (Saat ini Eropa), hebatnya ia melakukan hal luar biasa itu di usia 21 tahun. Peristiwa ini yang menjadikan ia diberi gelar al-Fatih atau Sang Pembuka.

Sejarah Islam menyebutkan bahwa pemuda yang memiliki gelar kebangsawanan asli Sultan Mahmed II ini telah mampu menaklukkan lawan yang berjumlah lebih besar, dengan metode perang dan kepiawaiannya saat memimpin pasukan. Ia lah pemuda yang berhasil mendobrak pertahanan lawan dari segala arah dan menjadikan salah satu katedral terbesar saat itu sebagai Masjid.

Di negeri ini, kita juga mengenal Jenderal Soedirman. Seorang Pahlawan yang sangat berjasa dalam merintis pasukan dan kekuatan militer Indonesia. Nama besarnya muncul ketika ia tetap bersikukuh untuk menolak menyerah kepada sekutu yang telah lebih dulu melancarkan politik dingin dengan pejabat elit negara. Sang Jenderal yang tengah sakit memilih jalan untuk tetap berperang dengan taktik cerdik dan berjalan menyusuri Jawa bagian selatan dengan ditandu karena tidak mampu lagi berjalan.

Kisah yang sangat jarang dimunculkan bahwa, Pak Dirman (sapaan akrabnya) resmi menjabat sebagai Jenderal TNI pertama pada saat usia 29 Tahun (1945) setelah ia bergabung di militer selama dua tahun. Pak Dirman dilahirkan di dunia pendidikan dan profesi awalnya adalah seorang guru di sekolah Muhammadiyah serta terlibat aktif di organisasi kepemudaan di daerah Cilacap, Jawa Tengah. Pak Guru yang telah menjelma menjadi seorang Jenderal di usia yang sangat muda dan dikaitkan dengan peliknya masalah bangsa kala itu, menjadi poin yang sangat luar biasa. Konflik internal di dalam diri Sang Jenderal tidak dapat dielakkan karena harus memimpin pasukan yang jauh lebih tua dan senior secara usia dan jabatan. Namun dengan ketulusan dan nilai-nilai luhur yang ditanamkan di dalam diri Soedirman kecil, menjadikan ia lahir sebagai pemimpin yang handal. Bukan hanya soal memberikan instruksi saat di medan perang, namun juga menanamkan nilai-nilai luhur bagi para prajurit dan pasukan hingga saat ini. Pada 29 Januari 1950, Sang Jenderal yang saat itu berusia 34 tahun dipanggil menghadap Allah dan meningggalkan pesan-pesan kehidupan yang sangat berarti bagi generasi selanjutnya.

Masih seputar pentingnya generasi muda, Tak dapat dipungkiri sejarah negeri ini berawal dari berkumpulkan para pemuda dari seluruh Nusantara pada 27-28 Oktober 1928, hingga lahirlah Sumpah Pemuda. Sebuah komitmen para pemuda yang mengarah pada nilai-nilai kemerdekaan suatu bangsa. Peristiwa ini baru saja kita peringati, ada upacara rutin, banyak pula stiker dan poster-poster bertebaran di media sosial yang mengingatkan kita akan pentingnya peran suatu pemuda terhadap Republik ini. Begitupun kisah Sang Proklamator, Soekarno, kisah Bung Tomo, dan sekian banyak kisah tokoh pemuda bangsa yang turut menuliskan tinta sejarah perjuangan negeri ini.

Sederetan kisah pentingnya Pemuda dan kiprahnya yang mampu mencengangkan dunia seakan meyakinkan para insan yang mengadu muda untuk juga mampu berbuat yang seripu. Satu hal yang perlu disadari bahwa Muhammad al Fatih, Jenderal Soedirman, Soekarno, Bung Tomo ataupun Tokoh-Tokoh Sumpah Pemuda lainnya tidak lahir dengan berleha-leha, mereka tidak lahir tanpa usaha, bukan terbentuk berjiwa pemimpin begitu saja tanpa adanya upaya. Mereka harus melalui dengan jerih payah, belajar, membaca, berdiskusi, mengisi diri dengan hal-hal positif, meneladani pemimpin dan aktivitas positif lainnya. Lalu pertanyaannya, “Bagaimana dengan kondisi pemuda saat ini?”, “Siapakah generasi muda yang sebenarnya”. Apa iya, generasi muda itu mereka yang eksis di layar televisi setiap hari, apa iya sosok pemuda harapan itu mereka yang berprofesi sebagai artis, bintang film, bintang iklan, atau bintang social media. Apakah mereka yang akan mampu membuat kita angkat topi karena merekalah generasi muda yang diharapkan?

Jika berbicara data, pernah saya sampaikan dalam sebuah momen sarasehan Alumni di depan masjid Jami’ PPWS Ngabar, bahwa yang didengungkan oleh Kemendikbud saat ini adalah adanya Bonus Demografi. Kata “bonus” tentu merujuk pada hal yang tidak biasa kita dapatkan, atau juga belum tentu didapatkan oleh yang lainnya. Bonus bisa jadi bersyarat dan berketentuan khusus, namun nampaknya Allah memberikan bonus pada negeri ini tanpa syarat dan ketentuan. Bonus yang dimaksud karena jumlah manusia di usia antara 5 – 15 tahun hari ini memiliki persentase tertinggi dari pada rentang usia lainnya. Artinya, pada 100 tahun kemerdekaannya di tahun 2045 negeri kita akan memiliki generasi usia produktif untuk memimpin dan memegang estafet kepemimpinan yang sangat banyak. Pada saat itu, anak yang kini berusia 5-15 tahun akan berusia sekitar 35 – 40 tahun, dan ini adalah usia yang sangat ideal untuk melakukan perubahan-perubahan besar. Bonus ini sering disebut bak dua pilah sisi pedang, apabila kita salah menggunakannya pasti akan fatal akibatnya. Besarnya jumlah manusia usia produktif bisa saja menjadi anugerah di saat tepat mempersiapkannya, namun sebaliknya akan menjadi bencana apabila salah dalam menyiapkan. Dan ini adalah PR kita semuanya untuk ikut terlibat mempersiapkan.

Dan, sebagai ikhtiar untuk melahirnya Muhammad al Fatih, Soedirman, Soekarno, WR Supratman, ataupun Bung Tomo yang baru, kita telah disediakan Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar ini. Pesantren menjadi Kawah Candradimuka untuk menggodok generasi muda yang unggul dan bermartabat. Dalam rangka penyiapan nilai-nilai luhur dan Ketuhanan, di Ngabar ditanamkan melalui aktivitas ibadah harian. Dalam rangka penyiapan kognitif santri, Ngabar menyiapkan melalui aktifitas pendidikan akademik. Dalam rangka penyiapan motorik, Ngabar mendidik melalui aktifitas kepramukaan, berbagai aktifitas organisasi yang apik diwadahi melalui Organisasi Santri Wali Songo (OSWAS). Nilai-nilai keluhuruan pondok selalu ditanamkan berupa Panca Jiwa Pondok, Arah dan Tujuan Pondok, Filosofi Pondok, dan seterusnya seakan-akan menunjukkan bahwa Asatidz tidak akan pernah rela apabila santri yang belajar di Ngabar hanya dipersiapkan ala kadarnya, karena itu akan berefek pada generasi yang “ala kadarnya” juga saat terjun di Masyarakat. Kata lainnya adalah sesuai kadarnya alias biasa-biasa saja. Sehingga lawan katanya adalah tidak seperti biasanya, dalam bahasa kerennya ‘pemuda yang out of the box, atau berfikir di luar dari ‘kotak’ kewajaran pada umumnya. Bisa juga dimaknai sebagai upaya berbuat kreatif, berinisiatif, dan selalu berinovasi.

InsyaAllah, dari Ngabar, kader-kader pemimpin harapan bangsa dan agama ini pun akan langsung menjadi pengembang masyarakat nantinya. Sekarang, insyaAllah, Sultan Muhammad al Fatih, Jenderal Soedirman, Soekarno, atau Bung Tomo, baru akan bermunculan di negeri ini. Bermunculan? Artinya tidak hanya satu atau dua bahkan tiga?. Iya, mengapa tidak?. Santri datang dari seluruh penjuru Nusantara, Luasnya Tanah Negeri ini, apakah hanya akan mampu memunculkan satu orang Sultan Muhammad Al Fatih seorang saja. Tentu tidak. Apalagi ribuan pesantren di Indonesia tengah dikembangkan, berbagai pusat pendidikan kepemudaan terus digerakkan.

Dengan besarnya harapan, tingginya mimpi, kuatnya tekad, dan memaksimalkan usaha dan doa, semoga Allah membina pondok kita, menguatkan para asatidz dan seluruh elemen yang terlibat untuk saling mendukung dalam menyiapkan generasi bangsa yang bermartabat, generasi yang mampu mengamalkan ilmu dan amal jariyah berkelanjutan untuk kebaikan agama, bangsa, negara, bahkan dunia, bukan menjadi generasi yang “ala kadarnya”. (Ady Setiawan)