Khutbatul Iftitah dan Tranformasi Nilai

 2017-09-10 16:01


Khutbatul Iftitah dan Tranformasi Nilai

Berjalan lebih dari setengah Abad, Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar tetap teguh dalam rel awal pendirian Pondok, yaitu mendidik. Perjalanan panjang ini tentu menghadapi banyak halangan dan rintangan, namun semua itu tidak menjadi masalah, justru menjadikan hidup ini semakin indah, hal ini senada dengan nasihat salah satu Wakif, K. Ahmad Thoyyib, “Halangan dan rintangan adalah garamnya perjuangan”, tanpa keduanya, tentu akan hambar.

Dengan semakin bertambahnya usia, maka sudah menjadi sebuah kelaziman untuk memikirkan kader-kader generasi penerus. Jangan sampai generasi penerus hanya menjadi generasi penikmat tanpa memahami beratnya perjuangan.
Keputusan para pendiri mewakafkan tanah pribadi untuk pengembangan pendidikan Islam di sebuah desa yang penuh dengan kemaksiatan, tentu mendapat banyak tekanan-tekanan dari berbagai pihak. Namun, berkat keikhlasan dan ketulusan niat, maka Allah memudahkan jalan itu. Yakin betul bahwa Allah akan memberikan jalan bagi orang yang mau berjuang dan memperjuangkan agama Allah “wa alladzina jaahadu fiina lanahdiyannahum subulana”.

Para pendahulu memang meninggalkan pondok secara fisik. Namun sebenarnya, yang ingin diwariskan oleh para pendiri bukanlah itu, melainkan warisan nilai-nilai. Maka sebagai generasi penerus hendaknya mengetahui seberapa penting urgensi kepentingan pondok ini di atas kepentingan-kepentingan yang lain. Jangan sampai kita lengah dengan tidak ada skala prioritas, sehingga menyikapi hidup ini terbalik-balik.

Yang lebih penting itu jiwanya, bukan sekedar fisiknya. Bangunan bisa dibangun. Uang bisa dicari. Pohon bisa ditanam. Tapi menanamkan pemahaman nilai-nilai? Tidak semudah mendirikan bangunan dan menanam pohon. Maka, tentu menjadi sebuah kesyukuran bagi generasi terdahulu ketika generasi muda sudah memahami nilai-nilai pondok. Masinis boleh berganti namun harus tetap pada rel yang ada.

Khutbatul iftitah yang wajib diikuti setiap tahun oleh seluruh elemen warga Pondok diadakan tidak lain adalah untuk mentransformasikan nilai-nilai Pondok melalui acara formal dan non formal. Pancajiwa, falsafah hidup, motto, arah & tujuan, dan sistem merupakan nilai-nilai yang tanpa disadari oleh para santri bertebaran dalam denyut nadi kegiatan santri selama 24 jam. Adakah yang bertanya mengapa almari santri berukuran tinggi 1,5 m? sedangkan tinggi santri baru kelas 1 lebih pender dari almarinya. Karena dengan demikian ia tidak akan mungkin untuk mengangkat sendiri, sehingga ia dipaksa untuk bersosialisasi dan bekerjasama dalam agenda rof'u ash-shunduq. Mengapa juga santri dari satu daerah tidak boleh berkumpul dalam satu kamar, satu kelas, satu kelompok mengaji, dll? itulah cara Pondok mendidik persatuan dan jiwa toleransi dalam diri santri. Mereka dipaksa untuk bekerjasama dengan orang yang disukai maupun tidak disukai, sehingga kelak tidak canggung dan menjadi tangguh.

Khutbatul Iftitah wajib diikuti oleh seluruh keluarga Pondok, baik yang sudah lama, maupun yang baru, bahkan asatidz syuyukh juga diwajibkan ikut dalam kegiatan ini. Tidak lain adalah dalam rangka penguatan kembali, agar tidak salah niat dan orientasi. Agar tidak menjadi seperti orang buta meraba gajah, dan orang bermata satu di tengah orang buta. Naudzubillah. (M. Amiruddin D)