Menelusuri Jejak Perkembangan Bahasa Arab

 2017-07-23 17:27


Menelusuri Jejak Perkembangan Bahasa Arab

Bahasa Arab merupakan bahasa yang memiliki kaitan erat dengan agama Islam. Ia merupakan bahasa di mana Islam diturunkan dan juga bahasa yang digunakan sebagai pengantar wahyu al-Qur’an. Diakui atau tidak, dengan turunnya persinggungan antara Islam dengan bahasa Arab sangat membawa keuntungan yang besar bagi bahasa Arab, baik dari sisi ilmu tata bahasa, maupun dari sisi eksistensi bahasa Arab hingga saat ini.

Sebagaimana bahasa-bahasa yang ada di dunia, bahasa Arab juga memiliki perjalanan pasang-surut sejak masa Jahiliyah atau pra Islam hingga saat ini. Setidaknya perjalanan perkembangan bahasa Arab dapat dibagi menjadi 6 periode, yaitu:

Pertama, Periode Jahiliyyah.

Bangsa Arab memiliki tradisi sastra yang sangat tinggi. Mereka sangat membanggakan syair-syair, bahkan tak jarang mengadakan kegiatan festival syair di pasar Ukaz, Majanah, dan Zul Majah. Setiap kabilah berlomba-lomba mengirimkan utusan terbaik. Syair terbaik akan diganjar kehormatan dengan penggantungan syair di dinding Ka’bah yang dikenal dengan istilah mu’allaqat atau (syair-syair) yang digantung sehingga dapat dibaca oleh seluruh masyarakat Arab.

Selain syair-syair, bahasa Arab juga dibanggakan dalam orasi atau berpidato. Sehingga, Pada masa ini, bahasa Arab telah memiliki nilai kesusastraan yang tinggi namun masih didominasi pada tataran bahasa lisan saja. Adapun budaya tulis-menulis belum terbina dengan baik.

Kedua, Periode Permulaan Islam

Perkembangan bahasa Arab dari sisi konten terlihat sangat pesat pada saat turunnya kitab Suci Al-Qur’an yang membawa banyak kosa kata baru dan di kemudian hari akan menjadi sumber kaidah perumusan Ilmu tata bahasa Arab. Selain itu, budaya tulis menulis juga mulai berkembang dengan baik.

Tradisi menulis ini berlanjut pada masa Khulafaur Rasyidin dengan ditulisnya Al-Qur’an dalam satu kesatuan, tepatnya pada Zaman Umar bin Khattab.

Ekspansi Islam ke beberapa wilayah baru pada Zaman Khulafaur Rasyidin juga memberikan pengaruh dan koreksi terhadap perkembangan Bahasa Arab. Pada satu sisi, perluasan wilayah ini membawa keuntungan guna menyebarkan Islam dan bahasa Arab sebagai bahasa resmi. Namun pada sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa Arab masih memiliki keterbatasan kosakata dalam hal administrasi, politik, dan hukum di wilayah yang lebih berperadaban.

Situasi ini tentu membahayakan bahasa Arab karena dapat tergerus dan “tidak laku” di wilayah-wilayah tertentu yang baru ditundukkan karena pemaksaan penggunaan bahasa Arab di daerah-daerah tertentu belum memungkinkan, seperti di Mesir dan Syiria yang tetap menggunakan bahasa Yunani, Irak dan kawasan Timur yang menggunakan bahasa Persia.

Philip K Hitti memberikan pandangan yang sangat baik akan hal ini, bahwa penaklukkan yang berbasis dengan senjata, bisa saja memaksa bangsa-bangsa tertentu untuk tunduk, namun tidak mungkin dapat memaksa untuk menggunakan bahasa tertentu. Terlebih wilayah yang ditaklukkan adalah wilayah yang lebih maju dalam hal ilmu pengetahuan dan peradabannya. Jika pun bisa, tentu membutuhkan waktu yang cukup lama

Namun sejarah membuktikan bahwa bahasa Arab mewarnai bahasa wilayah yang ditaklukkannya, bahkan mengungguli bahasa lokal yang berkembang saat itu. Proses arabisasi ini berjalan dengan sempurna pada fase ketiga atau tepatnya di masa Khilafah Bani Umayyah.

Perkembangan bahasa Arab di fase kedua ini ditutup dengan upaya kodifikasi Bahasa Arab pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Beliau mendorong para ahli bahasa untuk menjaga dan menyebarluaskan bahasa Arab yang baik dan benar.

Ketiga, Periode Bani Umayyah

Khilfah Bani Umayyah berusaha meneruskan tradisi merawat bahasa Arab sebagaimana yang telah dilakukan pada masa-masa sebelumnya. Pada masa ini, tepatnya pada masa Khalifah Abdul Malik, kerajaan menyatakan dengan tegas bahwa bahasa resmi kerajaan adalah bahasa Arab. Dengan demikian dominasi bahasa-bahasa lain di wilayah kekuasaan semakin tergantikan oleh bahasa Arab.

Selain penetapan sebagai bahasa resmi, juga diadakan penggantian mata uang yang sebelumnya menggunakan bahasa Persia dan Bizantium dengan mata uang baru yang berisi tulisan-tulisan Arab.

Penyempurnaan konten bahasa Arab juga dilakukan pada masa ini, yaitu adanya pembaruan bahasa Arab yang mencakup penambahan titik-titik pada huruf Arab dan perumusan tanda vokal dlommah (u), fathah (a), dan kasroh (i) sehingga memudahkan dalam pembacaannya, khususnya bagi non Arab.

Selain tata bahasa, penyempurnaan konten juga dilakukan pada aspek kosakata. Sehingga pada masa ini, bahasa Arab mulai memiliki istilah-istilah yang cukup memadai dalam bidang hukum, tata negara, tata bahasa, retorika, dll. Namun belum merambah dalam dunia filsafat, kedokteran, dan ilmu sains.

Meskipun masih terdapat kekurangan, tidak dapat dipungkiri bahwa kekhalifahan bani Umayyah memberikan sumbangan yang cukup baik dalam meletakkan dasar-dasar pengembangan Bahasa Arab yang di kemudian hari dikembangkan oleh Khilafah Bani Abbasiyah.

Keempat, Periode Bani Abbasiyah

Pemerintahan Bani Abbasiyah berpendapat bahwa kejayaan bergantung dengan berpedoman pada Islam dan bahasa Arab. Pada masa ini, dilakukan “pembedahan” al-Qur’an untuk pengembangan berbagai disiplin keilmuan seperti filsafat, kedokteran, matematika, antropologi, astronomi, dan teologi. Sehingga bahasa Arab mengalami perkembangan istilah-istilah baru seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan.

Selain itu, bahasa Arab juga mengalami perkembangan dari sisi pengajarannya yaitu dengan mulai adanya pembukuan bahasa Arab Fusha, sehingga dapat dipelajari oleh siapapun dan berkembang meluas.

Kelima, Periode Pasca Abad 5 H

Bahasa Arab tidak lagi menjadi bahasa resmi pemerintahan pasca runtuhnya pemerintahan Bani Abbasiyah dan terpecahnya kekuatan politik Arab menjadi Bani Saljuk dan Turki Utsmani.

Bani Saljuk mendeklarasikan bahasa Persia sebagai bahasa resmi, sedangkan Turki Utsmani menggunakan bahasa Turki sebagai bahasa resmi pemerintahan. Sejak saat itulah bahasa Arab menjadi terdesak dan tidak lagi digunakan hingga abad ke 7 H.

Keenam, Periode Pasca Runtuhnya Turki Utsmani

Setelah sekian lama pada posisi terdesak, ada upaya menghidupkan kembali bahasa Arab oleh kalangan intelektual Mesir dengan beberapa langkah, yaitu: menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar sekolah dan perkuliahan; menghidupkan kembali budaya penggunaan bahasa Arab fusha; dan gerakan penerbitan buku-buku Arab dalam jumlah masif.

Selain itu, para cendikiawan muslim juga melakukan counter terhadap pendapat-pendapat yang bertujuan menjatuhkan bahasa Arab dengan mendirikan Majma’ al-Lughoh al-‘Arabiyyah pada tahun 1943 di Mesir. Lembaga ini bertugas menjaga kemurnian bahasa Arab fusha dan mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan zaman. Selain itu juga mendirikan lembaga pendidikan pengajaran Pendidikan Bahasa Arab di Al-Azhar Mesir.

Dengan langkah-langkah jalur pendidikan yang ditempuh oleh para Intelektual Muslim tersebut, bahasa Arab perlahan kembali mendominasi negara-negara Arab meskipun belum sampai titik sempurna seperti masa keemasan daulah Abbasiyah.

Hingga saat ini, lembaga pendidikan bahasa Arab sudah menjamur di dunia, bahkan tidak hanya di negara-negara Arab, namun juga di negara-negara non Arab seperti Indonesia, Malaysia, dan bahkan Korea. (Amir Dardiri)