HASAN BASRI, JURU DAKWAH PENEBAR INSPIRASI (Rekam Hidup Sang Muslim Tionghoa)

 2017-01-31 09:18


Hasan Basri, seorang muallaf keturunan Tionghoa ini memiliki nama Mandari Liem Fuk Shan. Ia adalah putra ketiga dari lima bersaudara dari pasangan suami istri Abdurrahman Bieng dan Giok Laan. Lahir di kawasan 24 Ilir Kota Palembang Provinsi Sumatra Selatan pada tanggal 28 Desember 1984. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya di Kota kelahirannya, Palembang.

Sebelum masuk Islam, Hasan Basri kecil sering diajak teman-temannya bermasin ke masjid, hal ini membuat Abah Zen, salah satu tokoh Islam di Palembang pada masa itu berkeinginan untuk mengislamkan Basri. Karena usianya yang masih belia, Hasan Basri menerima begitu saja ajakan Abah Zen untuk masuk Islam. Hingga tepat pada 1996, Hasan Basri resmi berpindah agama menjadi Islam. Namun pada saat itu, pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama Islamnya masih sangat minim. Perpindahan agama ini tentu mendapat banyak perlawanan dari keluarga pihak Ibu.

Hasan basri kecil dikenal sebagai anak yang nakal dan berani kepada orang tua. Hal ini membuat kedua orang tuanya merasa tak mampu mendidiknya. Hingga akhirnya, Hasan Basri di masukkan ke Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar.

Awal belajar di Pondok Ngabar merupakan masa-masa tersulit. Latar belakangnya sebagai muallaf menjadikan dirinya kesulitan memahami pelajaran. Meski ia sudah masuk Islam, ia mengaku pada awalnya melakukan kegiatan Sholat dan mengaji di Pondok hanya ikut-ikutan teman dan rutinitas saja. Hasan memang belum mampu menerima nilai-nilai pendidikan secara utuh, namun ia pantang menyerah, hingga beberapa tahun kemudian beliau berhasil memahami arti ajaran Islam dan dapat merasakan manfaat ajaran Islam. Hal ini yang kemudian menjadi salah satu motivasi untuk memilih terjun sebagai pendakwah di kemudian hari.

Saat liburan tiba, Hasan Basri pulang ke Palembang untuk bertemu dengan kedua orang tua dan kaluarganya. Ibunya heran melihat perubahan sikap Hasan yang sangat drastis. Ia tidak lagi nakal dan tidak membentak orang tua. Hal ini tentu saja menjadikan orang tuanya terkejut dan kagum terhadap agama Islam.

Melihat perubahan sikap Hasan Basri yang menjadi lebih baik, menimbulkan simpati di tengah keluarga, hingga akhirnya kedua orang tuanya memutuskan untuk memeluk agama Islam, dan diikuti oleh ketiga saudaranya. Hanya satu adiknya yang belum memeluk agama Islam. Hasan Basri mengakui, keputusan pindah agama keluarganya tidak dipengaruhi ajakan verbalnya, melainkan murni karena simpati melihat perubahan sikapnya.

Pada tahun 2005, Hasan Basri dinyatakan lulus dari Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar ke 39. Kamudian, beliau melanjutkan perjalanan menimba ilmunya ke Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya, karena ingin terjun ke dunia dakwah Islam.

Semasa kuliah, Hasan Basri dikenal aktif diberbagai oraganisasi, antara lain Himpunan Mahasiswa Islam (HMI); Pemuda PITI Surabaya; Pemuda Islam Indonesia (PII); dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Selain itu beliau juga aktif menjadi pengurus masjid Ceng Hoo

Surabaya
Kini, keseharian Hasan dipadati dengan agenda dakwah. Hampir seluruh wilayah Jawa Timur sudah didatangi ketua Pelaksana Harian Yayasan Haji Mohammad Cheng Ho ini untuk syiar Islam.

Dengan dukungan dari sang istri, Hasan selalu meluruskan niat dakwah bukan untuk materi, melainkan untuk mengamalkan ilmu agama Islam. Baginya, berdakwah dan menyerukan kebaikan merupakan keharusan seorang muslim. Selain menjadi pengingat bagi orang lain, berdakwah sekaligus menjadi momen memperbaharui dan meluruskan niat bagi diri sendiri dalam kehidupan. (Amir Dardiri)